Ancaman Cyber di Pemilu Serentak 2019

Indonesia akan melaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu) serentak yang diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019. Dalam pemilu serentak 2019 akan dilakukan pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, serta DPRD Kabupaten atau kota. BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) menjelaskan adanya potensi ancaman Cyber Pemilu 2019. Hal tersebut diungkapkan oleh Djoko Setiadi selaku Kepala BSSN pada Rapat Koordinasi Bidang Kewaspadaan Nasional mengenai Pemilu Serentak 2019.

Ancaman Cyber di Pemilu Serentak 2019 dan Solusi BSSN

Djoko Setiadi menjelaskan bahwa ancaman cyber pemilu memiliki dampak yang luas yang mencakup bangsa Indonesia. Dijelaskan pula bahwa serangan atau ancaman cyber kerap terjadi saat pelaksanaan pemilu sejak tahun 2004. Sejak tahun 2004, serangan siber terus mengalami perluasan. Tidak hanya menyerang Teknologi Informasi Komunikasi akan tetapi sudah menyasar pada peserta pemilu sendiri.

Ada 3 ancaman cyber yang mungkin terjadi di pemilu serentak pada 17 April 2019 nanti. Ancaman yang pertama adalah Hack atau peretasan. Peretasan merupakan serangan yang memiliki tujuan untuk mengganggu infrastruktur dalam pemilu. Ada banyak cara yang dilakukan oleh pihak peretas atau hacker, salah satunya adalah dengan meretas web resmi penyelenggara pemilu. Bentuk peretasan dapat berupa penggantian halaman utama pada web resmi penyelenggara pemilu.

Ancaman yang kedua adalah leak. Ancaman yang satu ini berhubungan dengan informasi penting. Leak merupakan serangan yang berhubungan dengan pembocoran informasi penting. Leak menargetkan pada data peserta pemilu atau kampanye yang bersifat pribadi untuk diambil dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

Ancaman yang ketiga adalah amplify. Amplify merupakan serangan yang bertujuan untuk membuat viral sebuah informasi. Ancaman ini lebih mengarah pada kampanye gelap yang dilakukan oleh beberapa oknum untuk menjatuhkan pihak lawan dengan memberikan informasi buruk yang bisa saja informasi tersebut merupakan hoax.

Untuk mengatasi ancaman cyber pemilu, BSSN memiliki 3 strategi. Ketiga strategi tersebut adalah penguatan infrastruktur teknologi yang berhubungan dengan informasi pemilu, memperkuat keamanan aplikasi penyelenggaraan pemilihan umum, dan edukasi serta literasi terhadap pihak yang berhubungan langsung dengan pemilihan umum.

Related posts:

Comments are closed.